Selamat Datang di Dunia Saya

In The Name Of Allah, The Most Beneficent, The Most Mercifull


yah, sebelomnya saya ucapkan selamat datang di blog saya, dunia saya, yang rada aneh, dari yang ancur banget sampe sedikit bener...


Blog saya ini isinya macem macem, soalnya saya juga orangnya macem macem, padahal satu macem aja udah bikin susah lah eni macem macem kebangetan susahnya temen saya jadinya.. hehehehe..
Ada artikel tentang islam, isinya semuanya saduran, soalnya saya kaga berani ngomong macem2 soal islam kalu kaga gableg elmunya. kekekekekek

ada juga jelajah negeri. berhubung kata saya doyan ngayab, lah saya catetin dah tuh crita crita saya klayaban..

nah, kalo just wisdom tuh isinya crita crita kebijaksanaan yang saya ngarti, dapet dari mana mana, gitu... (bujug lagunya kebijaksanaan)

martial arts, isinya kaga laen seputar beladiri, nah saya juga hobi nih ama yg beginian. maklum, pesilat betawi, kekekekekek. tapi ada juga silat silat impor dari luar negeri...

my story, isinya seputar pengalaman pengalaman unik saya, kadang juga isinya kaga danta (jelas) mo masup kategori mana saya masupin dimari

nah kalu review isinyah review saya tentang macem macem, rata rata buku ama pelem (film). dah gitu aja dah

saya, daripada ngenalin diri narsis aneh aneh mendingan saya bagiin aja dah kata kata bijak dari orang orang laen....

Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam pernah bersabda yang artinya, barangsaiapa yang menunjukkan kebaikan,maka ia akan mendapatkan pahala, seperti pahala orang yang melakukannya. (HR. MUSLIM)

Anda adalah apa yang anda tahu dan anda pahami (Pandji, Nasional.Is.Me)

dari blog temen ane (klik disini)
Perjalanan Ribuan Mil berawal dari satu langkah (Lao Tzu)


Kata kata terindah yang pernah didengar manusia adalah ibu, rumah, dan surga..

hehe, segitu aja dulu mungkin... ntar kalu umpama udah ada tambahan yang sreg pasti saya kasih. pokonya, moga moga aja blog saya ini ada manfaatnya dah.. amin...



Just Wisdom: Para pencari tuhan

Bismillahirrohmanirrohim...

eits, tunggu dulu. Ini bukan judul lagu, apalagi judul sinetron. sebenernya saya mau berbagi pengalaman unik saya selama gaul sama orang jepun. yu know lah, kenapa saya nulis judulnya begitu. Jepang, adalah negara maju, namun ternyata banyak orang yang tidak beragama disana. akibatnya? saya rasa Jiwa orang disana kering kerontang, tidak bahagia. Ini ditandai dengan tingginya tingkat bunuh diri di Jepang. suatu hal yang bertolak belakang dengan kemajuan teknologi. Namun kali ini saya berkesempatan bertemu dengan sahabat saya dari Negeri Sakura, selama 14 hari hidup bersama, dan saya rasa dia adalah seorang Spiritual Seeker, seorang yang sedang melakukan pencarian spiritual. saya cukup salut, mengapa? karena pencarian spiritual apalagi diusianya yang baru 19 tahun adalah sebuah hal yang sulit. saya yang mendeklarasikan diri saya sendiri sebagai The Student Of Life juga merasa bahwa spiritual terus dicari sepanjang hidup kita, sampai kita  mati dan beristirahat dari lelahnya mencari dan belajar...

siang itu, saya sedang asik membaca sendirian di lantai dua setelah kami lelah mengajar di SD. tiba tiba datanglah Yu Hamada, membawa I-Phone dan duduk dihadapan saya. kelihatannya ada yang ingin dia bicarakan, jelas dari sikap tubuhnya. jadi, kubiarkan saja sambil terus membaca.

"em, ojii-chan (saya dipanggil gitu sama teman2 saya, artinya engkong dalam bahasa Jepang), do you have time? i want to ask you some question."
naaah... bener gak? batin saya dalam hati

"yes, what kind of question?"

"em... apakah semua senang?" tanyanya terbata bata sambil melihat ke I-Phone
saya mengernyitkan dahi, gak nangkep maksudnya, tata bahasanya jelas salah. setelah berpikir sejenak akhirnya saya menangkap maksudnya, mungkin maksudnya adalah apakah semua hal dalam hidupku itu membahagaiakan?

"ya, of course i always happy, in my life, and i very precious about that."

"oke, next question, apa yang dibutuhkan untuk jadi senang?"

hahaha, saya tertawa, mungkin maksudnya adalah bagaimana menurutmu untuk mencapai kebahagiaan?

saya jawab saja bagi orang Indonesia, kebahagiaan itu tidak dirasakan oleh tubuh, namun oleh hati dan jiwa, itulah sebabnya ketika kita berdoa, merasa senang, menangis bahagia, kita memejamkan mata kita, karena kebahagiaan dirasakan oleh jiwa, bukan mata kita. Spiritualisme! itulah jawaban saya, meskipun orang Indonesia kebanyakan masih miskin, hidup susah, namun mereka adalah orang orang yang bahagia. karena mereka bertuhan, dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya. lalu saya tanyakan apakah ia setuju bahwa Uang bukanlah sumber kebahagiaan? ia mengangguk setuju, tersenyum.

"the last question, boleh ambil foto? muka manis.." katanya lagi perlahan, kesulitan mengucapkan kalimat dalam bahasa Indonesia. saya tertawa dan ia kemudian memfoto saya. ketika saya tanya mengapa ia menanyakan pertanyaan seperti itu, ia bilang ia sedang belajar kebahagiaan dari banyak orang. dari seluruh relawan Indonesia..

beberapa hari kemudian, ketika relawan lain tidur siang, saya kembali asik membaca di tangga. tiba tiba Yu kembali datang dan mengajukan pertanyaan pertanyaan. kali ini lebih serius dan tak jarang membuat saya pusing menerjemahkannya ke bahasa Inggris. mulai dari masalah Tuhan dalam konsep agama Islam dan Jepang, konsep surga dan neraka, konsep kebutuhan beragama, bahkan ke masalah terorisme. jadi saya buat saja obrolan kami dalam bahasa Indonesia.

ada beberapa pertanyaan yang cukup menohok saya...

ia bertanya, meskipun kami tidak bertuhan, namun kami adalah orang orang baik..

haha, benar sekali, anda, masyarakat Jepang, adalah masyarakat yang sangat disiplin, menjunjung tinggi rasa hormat, dan rasa malu. tingkat kriminal disana jarang. sayapun merenung... kalau begitu, saya belum sepenuhnya merasa diawasi oleh Alloh...

dan pertanyaan terakhir adalah ia bertanya,
"seandainya kamu dilahirkan di Jepang, apakah kamu akan bertuhan dan menjadi seorang Muslim?"

waw... tamparan yang sangat sangat jelas. tercenung dan berpikir..
"apa kamu percaya takdir?" alih alih menjawab pertanyaan, saya justru bertanya balik.

"ya.." katanya

"kalau begitu, aku gak tau, inilah takdir. Manusia itu harus terus berusaha sampai takdir Tuhan terbuka untuknya.."

Diskusi itu terpaksa saya akhiri karena tiba tiba ia menangis, sesenggukan, entah mengapa.. Setelah saya coba untuk menjelaskan agama Islam padanya, sebisa yang saya mampu, segamblang yang saya tahu.. dengannya saya berdoa agar suatu saat Allah Ta'ala berkenan memberikan pintu hidayah padanya

Dibandara, ketika saya mengantar untuk kembali pulang ke negerinya, ia berkata pelan sambil menjabat erat tangan saya
"i will missed our conversation.."

Jadwal Latihan Silat Tradisional di Semarang

Bismillahirrohmanirrohiim....


Berikut ini adalah jadwal latihan silat Tradisional yang ada di Semarang yang saya ketahui. Silat berikut ini adalah silat non pertandingan (non IPSI) yang murni untuk beladiri.Semuanya dijalankan oleh para Mahasiswa Undip, dan terbuka untuk Umum, Baik Mahasiswa maupun Bukan.

A. Seni Maen Pukulan Sabeni Tenabang

Sebuah silat asli Tanah Abang, betawi, Jakarta Pusat. Sekarang telah hadir di semarang. Sebuah silat yang memiliki permainan Jurus yang rapat, cepat, dan gerakan yang selalu selaras antara pukulan sontokan dan sabetan kaki. Diciptakan oleh Jawara Legendaris Betawi, Kong Sabeni bin Channam (1860 - 1945). Silat Sabeni ini dibawah bimbingan oleh Bang Zul Bachtiar, Guru besar sekaligus cucu dari Kong Sabeni bin Chanam. Untuk Sejarah lebih jelasnya klik disini

         Jadwal latihan silat sabeni di semarang
         Hari      :   Senin & Sabtu
         Pukul    :   Senin 16.00 - 17.30
                         Sabtu 07.00 - 09.00
         Tempat :   Gedung Student Centre (PKM Baru) Undip, Tembalang, Semarang
         Contact Person :  (08562737762)
         

B. Maenpo Cikalong

Maenpo adalah terminologi Silat untuk masyarakat Jawa Barat khususnya Cianjur. Diciptakan oleh R.H. Ibrahim di Cianjur, Jawa Barat. Silat ini adalah silat yang mengutamakan kepekaan rasa, dan tidak diciptakan untuk mencelakakan lawan, melainkan untuk menyelamatkan lawan kita. sekarang silat inipun telah hadir di kota semarang di bawah bimbingan dari pelestarinya, R.H. Azis Asy'arie (Abah Azis). untuk lebih jelasnya klik disini.

        Jadwal Latihan Maenpo Cikalong di Semarang

       Hari      :   Rabu & Minggu
       Pukul    :   Rabu     19.00 - 21.00
                       Minggu  07.00 - 09.00
       Tempat :   Gedung Student Centre (PKM Baru) Undip, Tembalang, Semarang
                       Lapangan Widya Puraya Undip Tembalang (Minggu Pagi)
       Contact Person : 085747701131

Review Film: Sang Kyai

Bismillahirrohmanirrohiim...

Udah lumayan lama juga gak posting di dalem blog. kali ini ada materi yang cukup menarik juga jadi ane tulis aja dah.

Sang Kyai, sebuah film biopik tentang Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari Rohimahulloh. beliau adalah pendiri salah satu organisasi (bukan aliran lo ya..) keislaman terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama alias NU. masalah pemaennya silakan cari di mbah gugel hehehe... terlepas dari beberapa kekurangan film seperti jalan cerita yang kurang fokus ke KH Hayim Asyari dan beberapa kejanggalan lain, saya rasa film ini cukup enak untuk dinikmati, soalnya saya penikmat film bukan kritikus fim hehehe

Ikranegara Sebagai KH Hasyim Asyari

Di Jogja Kutemukan (kembali) Indonesia 1

Bismillahirrohmanirrohim...

Perjalanan memang memberikan kita banyak pelajaran. suasana jauh dari rumah yang hangat, tubuh yang kelelahan, perjumpaan dengan banyak orang, itu semua memberikan pelajaran akan kehidupan kita di dunia..

Just Wisdom: orang Bijak gak bakalan takut apapun

Bismillahirrohmanirrohiim...

Entah kenapa, saya jadi makin tertarik dengan kebijaksanaan, meskipun sebelumnya emang udah tertarik... hehe.. tulisan berikut cuma refleksi saya semata.. jadi jangan dianggap sok tua yeee

Just Wisdom : Belajar beladiri

Bismillahirrohmanirrohiim..

Beladiri, adalah sebuah dunia yang betul betul unik. terkadang bagi saya beladiri terdengar utopis, terkadang beladiri juga terdengar kontradiktif, namun pesonanya mampu membuat orang yang sudah terjun ke dalamnya enggan untuk keluar.

Journey To Lawu Mountain

Bismillahirrohmanirrohim...


Bis Solo-Semarang, perjalanan Pulang.


“.....Lestari alamku, lestari desaku, dimana Tuhanku menitipkan aku, nyanyi bocah bocah dikala purnama, nyanyikan pujaan untuk nusa. Damai saudaraku, suburlah bumiku, kuingat ibuku dongengkan cerita, kisah tentang jaya nusantara lama, tentram karta raharja disana....”


Lantunan lagu balada yang diputar oleh sopir bis Solo-Semarang ini meningkahi perjalananku pulang ke Semarang. Seolah bait demi baitnya mengajakku berpikir-setelah semalaman puas terlantar di terminal-bahwa memang tanah ini terlampau indah untuk tidak dicintai, dan terlampau bernilai untuk disia siakan....


Perjalanku kali ini diawali dengan sejuta asa tentang kembali kepada pelukan ibu pertiwi, tentang bagaimana kau kembali mencintai negeri, bagaimana kau kembali merengkuh asa akan negeri ini. maka aku memutuskan untuk bergabung dengan rombongan kecil tapi santai dan berisi 4 orang aneh yang ingin pergi ke gunung Lawu. Menikmati keindahan alam, dan guratan maha Indah dari Sang Pemilik Jagad Raya.


Terlantar di Salatiga
Siang itu, setelah usai kami berempat berkemas, kami bertolak dari tembalang, Semarang, menuju Solo. menaiki bus ekonomi, berdesakan, maklum saat itu adalah menjelang tahun baru. Kami singgah sejenak di salatiga untuk solat jum’at sebelum kemudian berlanjut ke solo. berempat kami tertawa lepas, menikmati perjalanan dan menikmati setiap desakan desakan penumpang, menikmati lagu lagu pengamen yang memaksa naik di kepadatan penumpang.


Tirtonadi, disini kami kemudian bertemu rombongan lain dari Jogja, yang juga ingin mendaki gunung Lawu. Aku pun makin semangat melihat pemuda pemuda cerah yang akan mendaki juga.


Sampailah kami berempat di tawangmangu. Segera saja kami mencari masjid untuk solat Ashar, menghadap Yang Maha Penyayang, yang menitipkan negeri seindah ini pada kami.
Tawangmangu

Ah, ternyata perutku lapar juga. Seusai solat kami berempat menyusuri pasar tawangmangu, mencari makanan yang bisa menahan garangnya enzim enzim perutku yang mulai memberontak. Ketemulah dengan soto dan nasi kare. Semangkuk soto dibandrol harga Rp 3000 saja, sedangkan kare seharga Rp 3500. Wah, sudah murah, enak! Tandas sudah dua mangkuk nasi kare masuk ke dalam perutku. Hahahaha.

Perjalananpun dilanjutkan menumpang colt diesel. Jalan makin menanjak dengan pemandangan yang sungguh luar biasa, di kanan kiri barisan kebun teh dan pohon cemara berwarna hijau tua. Rumah rumah penduduk yang bersusun susun berjauhan. Sedangkan di atas bukit yang jauh kabut mulai berarak turun, putih bersih, seputih hati penduduk desa yang berkemul dengan sarung di sepanjang jalan.

Maghrib menjelang ketika kami tiba di posko pendakian cemoro sewu, magetan. Suhu dingin mulai menusuk kulit. Angin bertiup cukup kencang. Memaksa kami memakai jaket tebal untuk melawan suhu dingin. Kembali kami terdampar di masjid, singgah dan kembali tunduk dihadapan-Nya.

Benar kata temanku, bahwa di gunung, orang bisa bercerita apapun, tentang dirinya, tentang segala keluh kesahnya. Bahwa manusia, dibawah kegagahan alam, akan merasa kerdil dan kemudian ceritapun mengalir. Sebelum tidur, ada sesi curhat dari temenku. Hehehehehe. Didalam warung yang hangat, ditemani secangkir kopi hitam kami berbicara dan bercerita. Ceritanya tentang apa? Rahasia dong, kekekekekekek.

Kami putuskan bahwa kami akan tidur di pos polisi. Sebuah tenda darurat yang menjadi pos polisi. Rupanya Alloh menurunkan hujan yang sangat lebat malam itu, kamipun kemudian hijrah kedalam warung karena tenda tersebut tidak kuasa menahan terpaan angin dan hujan. Didalam warung banyak pendaki nguntel kedinginan. suhu udara makin dingin.
Pelangi di Pagi Hari


Pagi menjelang... subuh kali ini terasa berbeda. Di kaki gunung kami solat, ah... damainya hati ini. abis sarapan, kamipun berkemas dan memulai pendakian. Di depan pintu gerbang pendakian, aku sejenak melepas pandanganku ke atas, ke puncak gunung lawu yang tertutup kabut tebal, namun masih perkasa dan berwibawa. Lalu kamipun berdoa, tertunduk khusyu’,


Ya Alloh, Engkaulah yang memberi kehidupan. Biarlah jiwaku ini kupasrahkan kepada-Mu, ingin kutumpahkan semuanya kepada-Mu, menyusuri jalan panjang ini. ya Alloh, berilah kami keselamatan.


Disinilah manusia betul betul merasa kerdil, kesombongan pasti runtuh, orang yang berkata bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan akan gentar gemetar, jatuh terserak. Kesadaran pun tumbuh, bahwa memang ternyata adalah Dia diatas segalanya.


Pendakian pun dimulai, setapak demi setapak, selangkah demi selangkah. Sesekali kami tertawa riang, bercanda, sesekali nafas kami tertahan, kemudian mengucap pujian untuk Sang Pencipta, dan bersyukur bahwa kami masih bisa menikmati keindahan alam Nusantara. Jalan cemorosewu yang sudah berbatu sedikit memudahkan kami dalam melangkah. Sesekali pula kami beristirahat dan mengumpulkan tenaga.

Sayang, di pos II salah satu teman kami tidak bisa melanjutkan perjalanan. Fisiknya belum terbiasa akan udara dingin dan tipis. Namun rombongan kami bertambah tiga orang dari solo. kami sekarang berenam melanjutkan perjalanan. Kawan kami terpaksa kami tinggal di pos II.
Ngaso

Jalan yang kami lalui makin menanjak dan curam. Memang jika lewat cemorosewu jalan lebih curam dan terjal dibandingkan dengan lewat cemorokandang yang lebih landai. Namun perjalanan harus diteruskan. Setapak demi setapak. Itulah yang selalu kuulang. Kami kadang berteriak teriak bagai orang gila bersahut sahutan, yang tentu saja tidak bisa kami lakukan di tengah kota.


Meskipun tubuh mulai lelah, nafas mulai terasa berat. Aku tetap melangkah, satu satu. Janganlah engkau lihat terlampau lama jalan yang sangat terjal diatasmu. Lihat saja jalan didepanmu yang hanya selangkah, selangkah, selangkah. Itulah yang membuatku tetap semangat dalam mendaki, dan mungkin juga dalam menjalani hidup. Takkan lari gunung dikejar, namun jika kamu tidak melangkah, kapan kamu akan sampai di puncak?


Sampai di pos 4 hujan mulai turun lagi dengan cukup lebat. Kembali kami merapatkan mantel hujan kami agar badan kami aman dari terpaan air. Alhamdulillah, jalan mulai berubah landai setelah sebelumnya benar benar menguras nafas dan tenaga. Kumandang adzan maghrib yang diteriakkan seorang pendaki menyambut kami di pos lima. Pos tertinggi sebelum puncak. Alhamdulillah. Segera saja kami mencari tempat untuk berteduh. Sebuah warung yang berdiri di pos lima menjadi tujuan aku dan seorang teman. Sedangkan empat orang lainnya mendirikan tenda yang memang hanya muat untuk 4 orang. Didalam warung yang hangat kami kemudian melaksanakan solat maghrib dan isya. Bersujud dan bersyukur diberikan keselamatan sampai di pos 5. Setelah makan malam kami pun terlelap kelelahan...


Aku terkejut mendengar adzan subuh berkumandang di atas gunung. Para pendaki kemudian berdiri bersaf saf menghadap Yang Maha Perkasa. Akupun larut dalam suasana khusyu sholat subuh indah di puncak gunung tersebut. Subhanalloh..


Setelah subuh usai, kami segera bersiap menuju puncak lawu. Mengejar pemandangan matahari terbit. Hadiah terindah bagi setiap pendaki gunung. Barang barang kami tinggal di tenda. Berbekal senter dan air kami kemudian berjalan menuju puncak.
Celah Khaibar

Hari beranjak terang pertanda sang surya makin meninggi. Jalan ternyata cukup landai sehingga memudahkan langkah kaki kami. Pemandangan yang disuguhkan sungguh membuatku berulang kali menahan nafas, dan tek henti hentinya memuji kebesaran-Nya. Betapa tidak, jalan yang kami lalui disampingnya adalah jurang yang dalam, didepan kami ada Jalan setapak yang membelah padang rumput menghampar luas, bunga bunga indah yang masih malu malu untuk mekar, berkas cahaya mentari yang mulai mengintip di balik awan yang menghasilkan baris baris sinar yang sungguh menakjubkan. Ah, alangkah indahnya negriku ini! kupejamkan mata sejenak, dan menghirup dalam dalam udara bumi pertiwi ini...
Padang Rumput

Akhirnya, akhirnya, alhamdulillah... kami sampai ke puncak lawu. Hargo Dumilah, 3265 Mdpl. Subhanalloh. Sungguh sebuah pemandangan yang tidak terkira. Seindah inikah alamku yang kalian sia siakan? Bukankah Tuhan telah menitipkan keluarbiasaan ini kepada kita? Betapa anehnya orang yang tidak mencintai tanah ini, yang dititipkan oleh-Mu. Hamparan awan putih yang ada di bawah kaki kami bagaikan permadani, ah, seolah kau bisa berlarian diatasnya. Barisan gunung di pulau jawa yang berjajar rapi, semeru yang terlihat jauh disana, semakin memperkuat posisimu sebagai Ring Of Fire. Belum lagi ngarai ngarai terjal kehijauan,  luasnya padang rumput berwarna hijau muda, matahari yang mulai menampakkan dirinya dari balik luasnya gugusan awan putih, dan merah putih, sang dwiwarna yang tegak berkibar di puncak Hargodumilah. Guratan kekuasaan-Mu betul betul kurasakan, dan sungguh aneh orang yang tidak mempercayai keberadaan-Mu!
Puncak


Puas kami menikmati pemandangan tersebut. Kamipun bergegas turun setelah sebelumnya mampir ke tempat yang katanya pamoksaan Prabu Brawijaya. Kembali ke tenda, mengisi perut. Dan turun dengan ngos ngosan mengejar teman kami di pos II. Meskipun pada akhirnya kami harus terlantar di terminal Tirtonadi karena kehabisan bis, perjalanan ini sungguh luar biasa, what a long journey! Perjalanan ini memberikanku penghayatan lebih mendalam kepada mencintai tanah airku, dan mensyukuri nikmat Tuhanku. Menyadarkanku bahwa Indonesia, bangsaku, sebegimanapun ruwet dan kusutnya, adalah tanah mutiara tempatku dilahirkan. Ia adalah tangis tawaku, putih tulangku, merah darahku, dan indung nasibku. Indonesia, ini aku, akan kuteriakkan namamu, sebagaimana namamu diteriakkan oleh para pendahuluku. Tuhanku, inilah hamba-Mu yang lemah, janganlah engkau lepaskan penjagaan-Mu terhadapku. Dan biarkanlah aku tetap menjadi hamba-Mu yang senantiasa belajar akan arti kehidupan ini, agar aku tidak lagi tersesat dalam jalan-Mu ya Alloh..

Dan akupun tertidur kembali di bus malam jurusan Solo-Semarang.

Catatan Tegalrejo 1

Bismillahirrohmanirrohim...
keyword: "Itu"


Ramadhan kali ini (sedikit) berbeda. akhirnya, setelah sempet galau, aku jadi juga jadi local volunteer di tegalrejo. berharap menemukan hatiku, hati seorang pendekar...

Sabeni, Jawara Legendaris dari Betawi, Indonesia

Disclaimer: Indonesian Version. For read English Version please click Here

Kalo ada sayuti Jago cengkareng
ada lagi sabeni jago tenabang
muridnye banyak, die dikenal orang
ga pernah die bikin salah duluan

-Hikayat Betawi, Sabeni Djago Tenabang-

Sabeni, The Legendary Martial Artist From Betawi, Indonesia

Disclaimer, English version, dapet dari website Jakarta Post. beberapa poin saya tambah.
saya praktisi silat sabeni. Sorry for bad english.. hahaha
For Indonesian Version Please Click Here
Sabeni's Symbol

Jelajah Negeri: Mahakarya Borobudur dan Prambanan

Bismillahirrohmanirrohim...

Disclaimer: jalan jalannya sih udah lama, tapi baru kepingin nulis sekarang. wekekekek

Ini ketigakalinya saya ke Candi Borobudur,dan pertama kalinya saya pergi ke prambanan, seingat saya...

Perjalanan sekarang terasa (agak) berbeda karena saya membawa orang asing, dari negeri Samurai, Jepang. saya senang jika melihat reaksi orang asing terhadap kekayaan negeri ini. Rasanya bangga, Indonesia begitu membanggakan walaupun kondisi pejabatnya yah,,, agak mirip sama monyet di Ragunan (Monyetnya aja marah kali disamain ama pejabat)

Martial Arts Journey: Maenpo Cikalong 2. lihatlah dunia lebih luas!

Bismillahirrohmanirrohim...
ini adalah catatan saya selama kurang lebih seminggu berlatih maenpo cikalong di bulan April 2012. bertempat di Kota Semarang. bersama RH Aziz Asy'asie, atau kami memanggil beliau, Abah..

Review Buku: Indonesia Mengajar, bersama Bangkitkan Indonesia!!

Indonesia Mengajar
Judul Buku : Indonesia Mengajar, Kisah Para Pengajar Muda di Pelosok Negeri

Penulis: Para Pengajar Muda
Prolog : Anies Baswedan

Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Harga : Rp 54.000


Bismillahirrohmanirrohim...

Sore itu, setelah para relawan sahabat sahabat saya sedang berjalan jalan di Mall Ciputra Semarang setelah kunjungan ke Universitas Diponegoro. daripada ngikut teman teman saya mental mental, saya memilih datang ke Toko Buku Gunung Agung dan Voilla! ada buku Indonesia Mengajar. pucuk dicinta ulampun tiba, saya tanpa ragu membeli buku tersebut.



Jelajah Negeri: Waktu seakan berhenti di keraton Jogja..


Matahari sangat garang siang itu. Jam sebelas siang kami tiba di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Setelah sebelumnya sempat kesulitan memasuki keraton di hari biasa karena kami menggunakan Bis, rombongan kami akhirnya bisa masuk setelah membayar uang “administrasi” kepada polisi sebesar Rp 100.000. wow, cukup fantastis.

14 hari bersama orang jepun: Arigatou, Best Friend!

Bismillahirrohmanirrohim...

Hari ini, Kasumi Takeuchi, relawan Jepang terakhir yang kembali ke negeri asalnya. Di Bandara ia menangis, karena harus berpisah dengan kami. Ia bahkan berkata bahwa ia tidak ingin kembali ke Jepang dan merasa tidak pulang, melainkan ia merasa pergi ke luar negeri. Wah, ia sudah cinta dengan kami dan negeri ini sepertinya. hehehehe..

14 hari bersama jepun 2: kenapa saya jadi relawan?

Bismillahirrohmanirrohim...

Nah, ini seri kedua catatan saya selama jadi relawan IIWC. untuk tahu apa itu IIWC bisa diliat dimari.

mengapa saya ikut program workcamp di tegalrejo?

kalau boleh mengutip buku Nasional.Is.Me nya Pandji, faktor why (mengapa) ini bagi saya amatlah penting. karena dengan kekuatan why seseorang mampu menjelaskan alasannya menjalankan sebuah pekerjaan, bahkan mengajak orang lain untuk mengikuti apa yang dia lakukan. sedangkan faktor how (Bagaimana)

14 hari bersama jepun 1: mereka kagum dengan Indonesia

bismillahirrohmanirrohiim...

ini catatan pertama saya selama ikut workcamp (semacam kerja kerelawanan) bersama mahasiswa dari Jepang di Tegalrejo, sebuah tempat prostitusi di Kabupaten Semarang. akan saya buat berseri, termasuk alasan saya ikut workcamp.

My Story: Kisah Orang Asing....

"tukang es kelapa yang rajin solat meninggal tadi pagi jam 9"

itulah SMS dari adekku di Bekasi yang ngasih kabar klo babeh, panggilanku untuk penjual es kelapa yang rajin solat, meninggal Jum'at pagi. Aku terkejut, Babeh, orang yang selalu tersenyum dan menjabat tangan siapapun yang ditemuinya di masjid, telah meninggalkan alam fana ini.

Akupun segera teringat akan sosok babeh, orang tua yang selalu terlihat ceria, wajahnya teduh meskipun terbakar matahari karena dagangannya mangkal di tepi jalan dekat

Darimana kita memulai shaf sholat?

Oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz

Pertanyaan :

Shaf itu dimulai dari kanan ataukah dari belakang imam? Apakah disyari’atkan harus adanya keseimbangan antara kanan dan kiri? Dimana ada yang mengatakan: “seimbangkan shaf” sebagaimana dilakukan oleh mayoritas imam?

Jawab :